Batti-Batti Selayar yang Meredup

Author: Muh. Nur Fajri Ramadhana, M.K

Opini, PADEWAKANG.COM- Kearifan lokal merupakan tatanan nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi, menurut John M. Echols dan Hassan Syahdily dikenali dalam dua kata yaitu Local yang berarti setempat dan Wisdom yang berarti kebijaksanaan, jadi dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal (local wisdom) merujuk pada lokalitas dan komunitas tertentu. Menurut Wahono (2005) menjelaskan bahwa kearifan lokal adalah kepandaian strategi-strategi pengelolaan alam semesta. Tidak hanya itu kearifan lokal juga bergerak pada sebuah norma,tindakan serta tingkah laku.

Dalam tataran komunitas masyarakat, kearifan lokal dapat ditemui dalam bentuk nyanyian, pepatah, petuah, cerita, ritual dan manuskrip- manuskrip yang melekat dalam perilaku masyarakat sehari-hari. Jadi bentuk kearifan lokal pada dasarnya dapat dikategorikan kedalam dua aspek, yaitu kearifan lokal yang berwujud nyata (tangible) meliputi, sistem nilai atau tata cara ketentuan khusus yang dituangkan dalam bentuk catatan tertulis dan yang tidak berwujud (intangible) seperti petuah yang disampaikan secara verbal dan turun temurun dapat berupa nyanyian dan kidung yang mengandung nilai-nilai ajaran tradisional. Batti’-Batti’ adalah sebuah seni berbalas pantun yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan lewat nyanyian serta diiringi oleh gambus dan rebana khas Selayar.

Jika dilihat dari Sejarah kapan munculnya dan siapa yang mempopulerkan kesenian ini belum ada keterangan pasti mengenai hal tersebut, namun dalam musik pengiringnya Gambus dan Rebana jika ditinjau dari sejarah kedua alat musik ini sendiri merupakan satu paket yang dimainkan untuk mengiringi tarian zapin dan nyanyian pada acara pesta pernikahan atau syukuran. Alat musik gambus juga dianggap penting dalam nyanyian Ghazal yang berasal dari Timur Tengah pada masa kesultanan Malaka. Kedatangan pedagang-pedagang Timur Tengah pada zaman Kesultanan Melayu Melaka telah membawa budaya masyarakat mereka dan memperkenalkannya kepada masyarakat di Tanah Melayu serta berkembang ke daerah daerah yang ada di Nusantara dan merambah ke Bumi Tanadoang.

Namun kenyataannya hari ini Batti-Batti tidak sepopuler dulu lagi diakibatkan perkembangan zaman serta teknologi digital yang merambah ke semua kalangan hingga pada akhirnya khlayak sedikit demi sedikit kesenian ini mulai sepi penonton. Pada era 70-an Kesenian ini tidak pernah ketinggalan untuk meramaikan acara baik itu syukuran maupun pernikahan yang dilakukan oleh masyarakat selayar kala itu. Selain sepi penonton kendala utama untuk tetap mempertahankan eksistensi kesenian ini ialah tidak adanya regenerasi yang mau belajar memainkan gambus dan rebana serta lirik nyanyian-nyanian pantun berbahasa Selayar.

Kendala lain juga pun menghampiri para pelaku kesenian utamanya para pemain Batti-Batti tentu mereka tidak bisa menggantungkan kehidupan mereka melalui kesenian ini yang hanya dimainkan ketika momentum tertentu saja. Bukan hanya itu beralihnya masyarakat ke musik modern juga membuat para pelaku kesenian Batti-Batti memutar haluan. Jikalau kesenian ini meredup tentunya kita harus mencari generasi untuk menyalakan dan mengembalikan eksistensinya namun jika kesenian ini sudah tak ada lagi memainkannya boleh jadi kesenian ini hanyalah sebatas cerita untuk generasi kita ke depan. Jikalau memang kesenian ini tak dimainkan lagi kita kehilangan satu warna musik yang merupakan satu kebudayaan bangsa.

Nilai seni terkandung dalam petikan khas gambus dan pukulan rebana yang dimainkan oleh para Pabatti-batti. Lirik yang dinyanyikan ada yang tercipta sudah turun temurun dan liriknya tercipta begitu saja seiring dengan nada perpaduan rebana dan gambus yang dimainkan menjadi keunikan tersendiri bahkan tak dimiliki oleh daerah lain.

Penulis adalah Tenaga Pengajar di SMKN 1 Selayar

Avatar
About Rifal Najering 25 Articles
Penyuka Sejarah, Penikmat Laut dan Kadang-kadang Menjadi Pelatih Sport Jantung.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*