Hikayat Rumah yang Menghadap ke Laut di Kampung Lagoppo

OPINI, PADEWAKANG. COM- Rumah idaman masyarakat pedesaan adalah rumah batu dekat jalan raya. Itulah sebagian besar harapan masyarakat yang tinggal di kampung Lagoppo. Daerah ini terdapat di perbatasan wilayah kekuasaan Kerajaan Bone yang pernah menjadi lokasi yang dilewati oleh Arung Palakka pada masa Perang Makassar. Sungai Tangka yang diantarannya terdapat Kampung Lagoppo menjadi saksi, pasukan Kerajaan Bone terlibat perang yang melelahkan dan menjadi cerita panjang sampai hari ini. Postur rumah desa biasanya terbuat dari kayu yang sudah disusun berdasarkan bentuk yang diinginkan, rumah yang dibuatpun tidak biasa, baik dari segi bentuk dan alat yang digunakan.

Sejak adanya pembangunan jalan raya secara besar-besaran, sebagian besar rumah dipindahkan lalu ditata berdasarkan arah jalan, di mana-mana ada jalan maka diikuti dengan adanya rumah yang berjejer. Gerak memunggungi laut dimulai dari adanya perpindahan rumah daerah pesisir ke perumahan jalan raya dan BTN. Dengan pindahnya rumah, maka identitas kebudayaan masyarakat mulai tergerus oleh pembangunan yang tak berorientasi pada kebudayaan bahari. Banyak pemuda yang lahir dari keluarga yang mengadalkan hidupnya di laut, tak sudi kembali menjadi peluat, lebih memilih sekolah yang sebenarnya apabila dikarkulasi pendapatan lebih banyak pendapatan seseorang yang bekerja di laut. Berkembang striorip dalam masyarakat tidak perlu sekolah cukup jadi peluat saja, ujungnya cari uang, pelaut itu cari uang. Tapi jadilah pelaut yang terlatih.

Rumah, mata pencaharian beserta kebudayaan merupakan variabel yang tak bisa dipisahkan. Pada Komunitas Kajang semisal, rumah-rumah masyarakat yang tinggal dalam lingkungan adat terbuat dari kayu. Apabila kita masuk ke rumah, yang pertama ditemui adalah dapur. Bukan ruang atau kamar tamu. Masyarakat Kajang sangat menjunjung tinggi nilai kesederhanaan dan keterbukaan. Mereka hidup dengan mengandalkan alam sebagai bagian dari hidup mereka. Untuk menebang pohon saja, diperlukan upacara tertentu. Sungguh mereka tetap menjaga tatanan kebudayaannya, hidup dengan lingkungannya. Bahkan mereka memiliki filosofi, apabila ada orang kaya di dunia ini merekalah yang terakhir, apabila ada orang miskin di dunia ini merekalah yang pertama (tuo sikamase-mase).

Dari segi letak geografis wilayah Laggopa termasuk daerah yang cukup jauh dari keramaian via darat. Dalam hal ini, interaksi lebih banyak terjalin dengan wilayah di seberangnya yaitu Kabupaten Sinjai via laut, dari sini berasal mata pencaharian para fappalimbang (orang yang menawarkan jasa penyebrangan). Perihal fapalimbang, menjadi transportasi utama anak-anak nelayan Laggopo yang ingin bersekolah di Sinjai, mereka biasanya merogok kocek Rp. 2000/orang.

Pada suatu hari di Kampung Laggopo, dari Sinjai via Pelelangan Lappa menggunakan jasa fapalimbang menyeberang ke Laggopo. Dekat sekali, apabila kita teriak dari Sinjai dapat kedengaran sampai ke Lapoggo, tetapi jauh untuk ukuran nyeberang via berenang. Jauh dan capek. Itu dipikiran kita, tetapi bagi anak-anak nelayan Lagoppo sudah biasa. Setelah malimbang kita tiba pada rumah-rumah yang menghadap ke laut. Masuk pada rumah yang cukup megah, rumah yang terbuat dari batu yang indah, di depannya ada rengge (jala) yang biasa digunakan oleh nelayan. Rengge biasanya disimpan di laut dalam waktu tertentu, harapannya ada ikan yang masuk dalam rengge.

Di depan rumah keluarga nelayan Laggopo, Amirullah, Dosen FIS/Ahli Laggopo (kiri) Rasyid Ridha, Ketua Jurusan Pend. Sejarah dan PIPS/Ketua Tim (kanan). Dokomentasi: Muaz
Halaman Rumah keluarga nelayan Laggopo, Amirullah, Dosen FIS UNM/Sejarawan Laggopo (kiri) Rasyid Ridha, Ketua Jurusan Pend. Sejarah dan PIPS FIS UNM/Ketua Tim (kanan). Dokomentasi: Muaz

Setelah ngorbrol-ngobrol dengan seorang istri punggawa yang memiliki 4 perahu, menceritakan banyak hal tentang kehidupannya selama di Laggopa. Pahit manis selama menjadi perempuan yang rela menjadi tenaga suka rela dengan cinta yang tidak pernah digaji untuk merawat anak-anak mereka. Para nelayan di Lagoppo berangkat ke laut sebelum matahari terbit atau tenggelam. Pada satu sisi masa pemberangkatan sebelum matahari terbit, terkadang para nelayan tidak pernah melihat anaknya berangkat ke sekolah, sarapan bareng apalagi mau mengantar sampai ke sekolah. Bahkan ada cerita yang berkembang dikalangan masyarakat, bahwa terdapat nelayan yang tidak tahu anaknya sudah kelas berapa. Mereka hanya memenuhi kebutuhan segalanya selama sekolah. Di sisi yang lain, pada pemberangkatan sebelum matahari tenggelam, mereka akan meninggalkan istrinya dimalam hari, menjadi istri nelayan penuh dengan tantangan. Tidak hanya merawat anak-anak, tetapi kebutuhan tentang dirinya kurang terpenuhi. Tetapi dibalik semua itu, istri nelayan menjadi bandahara yang banyak mengetahui keuangan yang didapatkan oleh suaminya selama melaut. Hal tersebut terbukti pada melakukan wawancara dengan istri nelayan, mereka sangat mengetahui sangat detail pendapatan suaminya.

Anak-anak nelayan yang ditinggalkan oleh orang tuanya melaut, setiap hari sekolah naik perahu fapalimbang ke Sinjai. Terdapat dari mereka putus sekolah dengan tingkat prestasi yang kurang memuaskan. Dengan modal kemampuan psikomotorik dengan karkulasi akademik kurang mendukung, mereka langsung terjung dalam dunia yang penuh gejolak dengan gelombang dan cuaca yang tidak menentu. Mereka yang putus sekolah dengan prestasi yang kurang memuaskan akan menjadi generasi penerus nelayan Lagoppo. Walaupun mereka menguasai pengetahuan menangkap ikan tetapi ke depan mereka akan berhadapan dengan pasar bebas, yang saya kira butuh kemampuan yang tak biasa. Tidak hanya didapatkan dari pengalaman melaut, tetapi kemampuan membaca kondisi pasar. Nelayan tetap akan merugi walaupun hasil tangkapan banyak dengan pemasaran yang tidak dikuasai secara utuh. Nelayan seharusnya lahir dari orang berprestasi, menguasai penangkapan, mengetahui pemasaran dan memanfaatkan teknologi, inilah yang diperlukan nelayan Lagoppo dimasa depan.

Dengan latar rumah yang menghadap ke laut, banyak cerita yang ditemukan, dan saya kira lebih banyak yang belum terungkap. Pada intinya rumah adalah identitas. Bagaimanapun rumahmu syukurilah, ada banyak cerita keluarga yang tak kamu temukan di tempat lain. memiliki rumah yang lebih indah tidak akan menjamin bahagia. Jadilah dirimu, budayakan budayamu.

Avatar
About Rifal Najering 25 Articles
Penyuka Sejarah, Penikmat Laut dan Kadang-kadang Menjadi Pelatih Sport Jantung.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*