Menemukan Konsep Orang Mandar Raja Laut

Penulis sedang membaca arsip Mandar di Arsip Nasional Republik Indonesia. Dok: Karim
Penulis sedang membaca arsip Mandar di Arsip Nasional Republik Indonesia. Dok: Karim

Penulis: Abd. Karim

OPINI, PADEWAKANG.COM- Berawal dari pengenalan saya terhadap tema Sejarah Maritim oleh Prof. Susanto Zuhdi (Ketua Dewan Guru Besar Universitas Indonesia). Beliau sebagai pakar maritim Indonesia saat ini menjelaskan dengan sangat detail berbagai macam konsep maritim di dalam kelas mata kuliah sejarah maritim program magister Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Penulis merasa sangat beruntung karena dapat mendapat ilmu langsung dari beliau.

Perjumpaan penulis soal sejarah maritim sebetulnya sudah sangat sering saat berada dibangku kuliah strata satu. Tetapi kemudian, Penulis merasa penting menyelam lebih dalam lagi dengan membaca beberapa referensi terkait sejarah maritim. Buku Nasionalisme, Laut dan Sejarah (Susanto Zuhdi, 2014) menuntun penulis ke satu bacaan utama sejarawan maritim yakni Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX (Adrian B. Lapian, 2009). Buku tersebut menawarkan tiga konsep yang dapat membaca karakter masyarakat bahari di suatu wilayah. Pertanyaan pertama saya setelah membaca buku itu apakah dari tiga konsep Lapian ada yang cocok dengan masyarakat Mandar ?

Ridwan Alimuddin dengan karyanya, Orang Mandar Orang Laut: Kebudayaan Mandar Mengarungi Gelombang Perubahan Zaman. Karya tersebut berhasil menggunakan konsep “Orang Laut” (Lapian) dengan menggunakan data yang cukup memadai. Penulis pada gilirannya berpikir keras apakah perjalanan bahari Orang Mandar hanya sampai pada tataran konsep Orang Laut ? Penulis kemudian menemukan lagi sebuah tulisan yang menggambarkan Orang Mandar di Laut. Karya Hasanuddin berjudul Pelayaran dan Perdagangan Orang Bugis dan Mandar di Kawasan Teluk Tomini, karya tersebut juga berhasil mengemukakan dan membuktikan bahwa Orang Mandar adalah Bajak Laut di Teluk Tomini. Hasanuddin menelurkan konsep itu dari berbagai sumber-sumber sejarah dan ditulis dengan kaidah ilmiah. Ridwan Alimuddin juga demikian bahkan Ridwan mendapat restu langsung dari sang pemilik Konsep Orang Laut yakni Adrian B. Lapian dengan menuliskan pengantar dalam buku tersebut.

Penulis semakin bingung, akhirnya penulis memutuskan untuk menelusuri Arsip-arsip dan bahan bahan lainnya yang terkait kebaharian Orang Mandar. berawal dari membaca Laporan Misionaris Belanda J.G.F. Riedel yang berjudul De Vestiging Der Mandaren in de Tomini-Landen. Penulis menelaah beberapa informasi dalam Laporan itu, ternyata Orang Mandar menjadi suku bangsa yang disegani di Kawasan Teluk Tomini. Bagi Penulis ini menjadi angin segar.

Penulis kemudian melanjutkan dengan melakukan konsultasi dengan Prof. Susanto Zuhdi. Proses konsultasi itu memberikan pelajaran yang sangat berharga bahwa sebuah tulisan lahir dari usah yang tidak mudah. Penulis harus “berdarah-darah” untuk membuat sebuah tulisan terlebih lagi bercita-cita ingin melahirkan sebuah konsep. Saat itu, Beliau sangat menekankan bahwa sebuah tesis harus melahirkan sebuah konsep. Dengan kata lain, diperlukan data lain untuk membangun konsep itu, tidak cukup menggunakan data dari laporan Riedel. Sangat miskin sebuah riset apabila hanya menggunakan satu sumber primer.

Semenjak itu, Penulis menjadikan Arsip Nasional Republik Indonesia sebagai rumah kedua. Melakukan pencarian sumber selama berbulan-bulan. Sumber-sumber yang ditemukan sebahagian besar berbahasa Belanda dan berbahasa melayu dengan aksara pegon (arab). Kegiatan mencari sumber sejarah itu tidak hanya sampai penemuan sumber tetapi juga harus menerjemahkan berlembar-lembar naskah sumber yang berbahasa Belanda dan beraksara pegon.

Perjalanan pencarian sumber tersebut berlabuh ke pembimbing akademik penulis. Dr. Linda Sunarti, beliau banyak mengarahkan tulisan-tulisan saya kearah sebuah karya yang bisa melahirkan konsep. Penulis kemudian menghabiskan waktu 1,5 tahun untuk menulis tesis itu.

Orang Mandar Raja Laut merupakan konsep yang ditemukan dalam perjalanan menyusun karya akademik itu. Pertama kali Konsep itu ditawarkan pada Seminar Internasional APRISH di Jakarta. Penulis menyebutkan telah menemukan sebuah konsep Orang Mandar Raja Laut dalam forum itu. Tawaran penulis menuai respons positif dan beberapa “tawa”. Penulis semakin bersemangat karena Penulis dapat membuktikannya dengan data-data sejarah. mengacu pada data selain Riedel Belanda sangat ingin menguasai Teluk Tomini tetapi terhalang oleh Kekuasaan Orang Mandar. Kekuasaan itu tercatat sejak tahun 1678 di Lambunu (sekarang Moutong). Orang Mandar juga disinyalir membangun Kerajaan Moutong pada abad XVII, berdasarkan analisis Laporan Belanda yang menyatakan bahwa Penguasaan dilakukan oleh Orang Mandar berakibat penguasa Gorontalo terancam karena pada tahun 1730 Orang Mandar berkuasa di seluruh wilayah Moutong. Belanda merespons  laporan itu lalu mengirim pasukan untuk memerangi  dan menghalangi aktivitas Orang Mandar di kawasan Teluk Tomini. Usaha itu akhirnya tidak membuahkan hasil dan Orang Mandar masih tetap berkuasa  wilayah Kaili termasuk Teluk Tomini pada tahun 1790 (Laporan Belanda, 1888).

Sampai abad XIX Orang Mandar masih melakukan aktivitas pelayaran dan perdagangannya di Kawasan Teluk Tomini dengan leluasa, bahkan otoritas Belanda tidak dapat membendung itu. Beberapa laporan Belanda soal perdagangan di Teluk Tomini, Orang Mandar tidak dikenakan pajak yang sama dengan pedagang lain. Pelaut dan pedagang Mandar bahkan tidak dikenakan bea pelabuhan dengan kata lain Orang Mandar memiliki hak khusus dalam aktivitasnya di Laut. Orang Mandar juga bebas berlayar kemana saja dalam kawasan Teluk Tomini. Lebih jauh lagi, Orang Mandar dapat melakukan kekerasan terhadap Orang-Orang yang menggagu otoritasnya atas wilayah itu termasuk bajak laut yang mencoba untuk merampok perahu-perahu di Teluk Tomini.

Kondisi tersebut senada dengan gagasan Adrian B. Lapian tentang Raja Laut. Orang Mandar dapat dikategorikan sebagai Raja Laut karena memenuhi syarat dari konsep Raja Laut temuan Lapian. Penulis sangat puas dengan temuan itu, bahkan terus mendapat dukungan dari Prof. Susanto Zuhdi, Dr. Linda Sunarti dan Dr. Didik Pradjoko untuk terus melanjutkan riset. Selain itu, satu dorongan cukup kuat menyatakan bahwa Orang Mandar Raja Laut adalah Sejarah yang ditemukan invented History (Bernard Lewis) oleh Penulis. Temuan konsep itu tertuang secara detail dalam Tesis penulis yang berjudul “Jaringan Maritim dan Perdagangan: Orang Mandar di Teluk Tomini Abad XIX” dan tesis itu berhasil dipertahankan di Universitas Indonesia Jurusan Magister Ilmu Sejarah pada 8 Januari 2018

Penulis merupakan Alumni Magister Ilmu Sejarah Universitas Indonesia

Avatar
About Rifal Najering 21 Articles
Penyuka Sejarah, Penikmat Laut dan Kadang-kadang Menjadi Pelatih Sport Jantung.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*