Ongkos dan Dewan Syuro dalam Pernikahan di Kajuara

Membaca Naskah di Erasmus, Jakarta. Dok: Pribadi
Membaca Naskah di Erasmus, Jakarta. Dok: Pribadi

OPINI, PADEWAKANG.COM- Orang Bugis memiliki ongkos pernikahan yang terlampau mahal. Standar untuk melamar perempuan pada taraf middle class membutuhkan ongkos sebanyak Rp. 60.000.000,00, hanya sekadar kebutuhan uang panaik. Kedua keluarga calon mempelai sekitar dua minggu sebelum acara, rumah telah disesaki oleh sanak family yang datang dari jauh. Barang-barang yang kurang dibutuhkan dalam rumah yang tidak diperlukan dikeluarkan, agar lebih leluasan memasak dan mabeppa’.Pada zona waktu dua minggu tersebut, keluarga inti (yang tinggal di rumah atau yang datang dari luar) terutama perempuan selalu berada di dapur menyediakan makan siang dan malam. Pada masyarakat pedesaan yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan nelayan/pelaut, waktu makan siang akan lebih awal pada pukul 10.00, sedangkan untuk makan malam pukul 16.30. Hal demikian dilakukan untuk memudahkan dalam beristirahat pada siang hari dan mencuci piring pada malam hari. Yang lazin terjadi di kampung saya, setiap saat para tetangga biasanya membawa kantongan yang berisi lauk untuk dimakan, nelayan membawa ikan, petani membawa beras, fappangempang membawa udang dan sebagainya.

Setiap hari keluarga harus menyediakan makanan paling sedikit 40 porsi ukuran jumlah dengan variasi hidangan yang berbeda-beda. Di tempat saya tinggal, menu wajib yang dihidangkan adalah ikan bakar. Dengan perhitungan 2 minggu, tua rumah menyediakan hidangan porsi jumbo sebanyak 560 porsi, dapat dibayangkan ongkos yang akan dikeluarkan. Tetapi, uluran tangan dari tetangga dari berbagai profesi setidaknya dapat membantu tuan rumah. Belum lagi pernak-pernik nikah yang tak kalah banyaknya, keluarga mempelai diharuskan membeli sapi untuk hidangan pada saat acara pernikahan. Sapi dengan ukuran sedang harganya Rp. 11.500.000,00. Tidak berhenti sampai di sini, belum lengkap pernikahan tanpa perlombaan dan hiburan, lomba yang klasik yang sering dilakukan adalah lomba domino sedangkan untuk hiburan adalah orkes (lettong). Untuk kedua acara di atas, keluarga harus menyediakan uang sekitar Rp. 5.000.000,00. Dengan perhitungan lettong dengan goyangan erotis sebanyak Rp. 3.500.000 (belum termasuk saweran muda-mudi yang ikut bergoyang) yang bisanya dikomandoi oleh tuan rumah sedangkan lomba domino biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp. 1.500.000 plus jika ingin hadiah yang lebih bombastis. Dengan demikian, keluarga laki-laki harus menyediakan uang sebanyak Rp. 100.000.000-an untuk menikah. Namun perlu diketahui bahwa orang Bugis memiliki sistem keluargaan yang sangat tinggi.

Bagi keluarga yang tidak memiliki cukup uang untuk menikah, maka terlebih dahulu ditalangi oleh Dewan Syuro (keluarga yang dituakan, biasanya memiliki uang yang banyak) sampai acara selesai. Beberapa kasus di kampung saya, terdapat laki-laki yang belum memiliki uang yang cukup, tetapi dapat memilih (majello) perempuan yang ia sukai karena kuasa dari Dewan Syuro. Alhasil, besarnya ongkos pernikah orang Bugis tidak lantas menyurutkan niat individu untuk menikah muda, hal tersebut disebabkan oleh ikatan kekeluargaan yang kuat. yang tidak cukup ongkosnya dibantu, yang banyak uangnya dipilih sebagai Dewan Syuro yang dapat memediasi segala macam prosedur demi mendapatkan perempuan pilihan yang terbaik dengan ongkos yang pas.

Avatar
About Rifal Najering 25 Articles
Penyuka Sejarah, Penikmat Laut dan Kadang-kadang Menjadi Pelatih Sport Jantung.

2 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*