Second Identity Sejarawan Loloda

Penulis: Abd. Rahman Hamid

12 April 2013, saya dan Abd. Rahman (dosen Unkhair Ternate), menjumpai Staf Ahli Menteri Pertahanan RI di Kementerian Pertahanan, yakni Prof. Dr. Susanto Zuhdi, yang kelak menjadi promotor kami.

Anda bisa membayangkan, bagaimana masuk di kantor Kemhan. Semua ditanyakan dan diperiksa dengan seksama. Kalian dari mana, cari siapa? Ada perlu apa? Apa sudah janjian? Dst… semua pertanyaan itu membuat kami gugup. Betapa tidak, kami dari daerah baru masuk kota besar dan di kantor markas besar pertahanan (TNI). Eman, begitu saap akrabnya Abd. Rahman, sempat membisik kepada saya, bahwa lebih baik kita pulang saja. Bisa banyak urusan kita dengan tentara. Nanti kita temui Prof. Santo lain waktu saja. Saya terdiam. Antara terus maju atau balik haluan (pulang). Sementara kami sudah ditunggu oleh Prof. Santo.

Di tengah kebingungan kami, tiba-tiba muncul keberanian saya untuk memperlihatkan sms (pesan singkat) dari Prof. Santo kepada saya, yang isinya janjian bertemu di kantornya, berikut waktunya (kira-kira jam 12 atau jam 1 siang). Setelah dibaca, penjaga kemudian memperhatikan kami kembali, sembari bertanya, kalian punya hubungan apa dengan Pak Staf Ahli? Saya jawab, kami punya urusan akademik dengan beliau sehingga kami diajak bertemu di sini. Tiba-tiba, dia mengatakan siap, sambil memperlihatkan posisi siap ala tentara.

Setelah itu, kami masuk. Tiga lapis penjaga dilalui. Setelah tiba di depan pintu masuk, keluar seorang staf, lalu bertanya: apakah kalian adalah tamu bapak? Kami kompak menjawab, iya. Kami dipersilahkan masuk ke ruang kerja Prof. Santo. Di sana Prof. Santo telah siap dan langsung menyambut kami dengan sapaan yang hangat, sembari berkata, bagaimana suasana masuk di kantor militer? Kami hanya tersenyum, seolah tak mampu berkata-kata. Lalu, beliau mempersilahkan kami duduk di kursi tamu. Alhamdulillah.

Pada mulanya, tujuan kunjungan ini, adalah untuk mendapatkan rekomendasi akademik bagi saya untuk melanjutkan studi S-3 di Univ. Indonesia. Pertama kali saya menyodorkan beberapa karya (buku dan artikel saya) kepada Prof. Santo sebagai bahan pertimbangan memberi catatan rekomendasi. Lalu, topik perbincangan diperluas pada tema riset (bakal disertasi) nanti bila sudah diterima.

Saya menyampaikan topik mengenai Buton, dengan pertimbangan telah meneliti dan menulis sebelumnya. Dengan latar itu, saya bisa meneliti Buton dengan baik dan mudah. Sementara itu, Eman menyampaikan bakal topiknya mengenai Kerajaan Bacaan. Sesekali beliau memberi pertanyaan dan kami jawab, seolah pra ujian rencana riset. Kami berupaya menjawab setiap pertanyaan dari Prof. Santo.

Tak lama kemudian, fokus rencana topik riset dikembangkan ke arah yang lain. Terkait dengan saya, Prof. Santo menyarankan menulis tentang Mandar, yang belum banyak dikaji. Pelras sendiri bilang yang pelaut itu adalah Mandar, bukan Bugis, kata Prof. Santo untuk motivasi kepada saya.

Sementara, terkat Eman, beliau mengatakan bahwa soal Bacan telah ditulis oleh A.B. Lapian. Jadi, sebaiknya cari fokus lain. Selanjutnya, beliau mengajak kami mendekati dinding, di sana terpajang sebuah peta Indonesia yang berukuran cukup besar (sekitar 2 x 3 meter). Beliau menanyakan posisi lokasi penelitian kami.

Entah mengapa, arah pembicaraan lebih banyak ke soal rencana riset Eman. Beliau dengan serius mengecek lokasi Bacan. Dalam proses itu, Eman menyebut soal satu kerajaan tertua di Maluku Utara, tetapi terabaikan dalam sejarah, yakni LOLODA. Tampaknya, Prof. Santo tertarik untuk mengetahuinya lebih lanjut. Dia bertanya, di mana lokasinya dan persebaran orang Loloda. Maka, Eman pun menjelaskan dengan semangat, dan kami menyimaknya.

Dari pertemuan pertama itulah lahir inspirasi untuk menulis Mandar bagi saya dan Loloda untuk Eman. Dari sana beliau mengatakan bahwa ilmuwan (calon sejarawan) harus punya “second identity”, setelah identitas pertamanya. Beliau mencontohkan dirinya sebagai orang Jawa, yang menulis/ahli Buton.

Saya adalah orang Buton yang disarankan menulis Mandar. Sedangkan Eman adalah orang Makassar yang disarankan menulia mengenai Loloda. Hal lain, saya lahir di Maluku (Selatan) dan mengabdi di Makassar, sedangkan Eman lahir di Makassar dan mengabdi di Maluku (Utara). Jadi, seolah kami bertukar tempat pengabdian.

Pertemuan itu menjadi titik balik penting dalam perjalanan akademik kami. Dari situ kami punya calon “second identity” untuk dikaji lebih lanjut.

Pada setiap kesempatan kuliah dan seminar, seolah sudah menjadi kewajiban, Eman selalu bicara soal Loloda. Sehingga, karena nama kami sama, yang membedakan hanya kata Hamid pada nama saya, teman-teman dan dosen kami di UI sering menyapa Eman dengan Loloda, atau lengkapnya Rahman Loloda. Identitas kedua itu begitu melekat pada dirinya. Tidak berlebihan, jika perlu ada nama lain di samping nama pertamanya, maka yang lebih tepat adalah Doktor Rahman Loloda.

Hari ini, 18 Desember 2019, teman seperjuangan saya, Abd. Rahman, M.Si., akan promosi doktor pada Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, dibawah promotor: Prof. Dr. Susanto Zuhdi dan kopromotor: Dr. M. Iskandar. Semoga promosinya lancar dengan hasil yang sangat memuaskan.

Akhirnya, tercatat sudah periode perjalanan akademik Dr. Abd. Rahman, M.Si di Universitas Indonesia pada 2013-2019.

Makassar, 18 Desember 2019

Avatar
About Rifal Najering 21 Articles
Penyuka Sejarah, Penikmat Laut dan Kadang-kadang Menjadi Pelatih Sport Jantung.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*